JOHN HARTMAN : Banyak orang berdoa untuk kesembuhan saya

Rev. John Hartman memulai pelayanannya di Placerville, California tahun 1976. Selain aktif dalam pelayanan lewat media televisi, ia juga mendirikan beberapa stasiun televisi lokal. Mengadakan banyak KKR di gedung gereja dan lapangan di Indonesia, Amerika dan banyak negara. Kepada BAHANA mantan bodyguard Elvis Presley ini bersaksi tentang kesembuhannya.

Desember 2008. Di kepulauan terpencil, di Nusa Tenggara Timur. Seperti biasa John memeriksa segala persiapan sebelum KKR dimulai. Cek panggung, sound dan lainnya. Persiapan tiga jam di tengah terik matahari. Usai KKR, kembali ke Jakarta, kulit John berbintik-bintik merah. ”Diagnosa awal, bintik-bintik merah itu timbul karena sengatan matahari berkembang semacam enzim di kulit. Dokter mengatakan, sebagai seorang bule, Pak John sangat rentan terhadap matahari,” jelas Mary Hartman, istri John yang mendampingi wawancara bersama beberapa staff Gospel Overseas Studio.

Akhir Desember John mengunjungi keluarga di Amerika untuk merayakan Natal. Cuaca sangat dingin. Karena bintik merah itu tidak kunjung hilang, John periksa di salah satu rumah sakit. Dokter mendiagnosa penyakit psoriasis. Kata dokter, penyakit ini sangat langka untuk orang seusia John. Setelah di tangani oleh dokter di AS, penyakit di kulit John mengalami kesembuhan. Medical chek up, kondisi John normal.

Setahun berlalu, tepatnya Desember 2009, John ke Amerika untuk merayakan Natal. Ia kembali mengalami gatal-gatal. Ponakannya yang dokter memeriksanya. Disarankan, John tidak boleh pulang ke Indonesia, karena membahayakan. Namun, John bersikeras tetap pulang karena memikirkan jiwa-jiwa di Indonesia.

Setelah beberapa waktu di Jakarta, kondisi John membaik. Namun kemudian, terjadi pembengkakan di tangannya. Setelah pemeriksaan dan diberi obat, hasilnya normal. Beberapa waktu kemudian, John tidak bisa berjalan. Lalu John ke rumah sakit untuk melakukan tes. Berdasarkan hasil tes, John menderita penyakit yang menyerang organ bagian dalam tubuhnya. “Tapi yang menjadi perhatian dari RS itu hanya tes yang mereka lakukan, sedangkan bengkak pada kedua tangannya tidak diobati,” kata Mary.

PASKAH 2010
Minggu Paskah. John mengalami pendarahan. Cucu mereka yang menjagainya di RS segera menghubungi Mary. Rumah sakit berusaha untuk menghentikan pendarahan dan berhasil. John memang mengkonsumsi obat darah tinggi yang berfungsi sebagai pengencer darah. Selama di RS itu, dokter memberikan John 3 macam obat pengencer darah. Itulah penyebab pendarahan.
“Dalam kondisi itu, seharusnya dokter menghentikan konsumsi obat pengencer darah itu. Jadi ketika minum obat, Pak John pun pendarahan lagi. Di tengah kondisi Pak John yang tidak stabil, kami memutuskan pindah ke rumah sakit di Singapura.” jelas Mary.

Membawa John ke Singapura tentu tidak bisa dengan pesawat komersial biasa. Harus menggunakan pesawat pribadi. Syukurlah saudara sepupu John membantunya. Jam delapan malam John didampingi istri dan dokter berangkat dari Bandara Halim. “Kami melihat ketika Pak John diterbangkan ke Singapura, kondisinya seperti jenazah. Mata sudah ditutup. Banyak selang. Persiapan kantong darah cukup banyak. Dari rumah sakit ambulan yang membawa Pak John layaknya ruangan ICU. Begitupun di dalam pesawat.”

PERTOLONGAN DAN KESEMBUHAN
Berdasarkan pemerikasaan, obat yang diberikan dokter di Indonesia sangat keras sehingga telah melukai usus John. Setibanya di rumah sakit itu, John langsung di operasi. ”Selama di Singapura, sepupu Pak John banyak membiayai pengobatan,” ungkap Mary.

Setelah dilakukan operasi, beberapa hari kemudian Mary ingin segera membawa Pak John pulang ke Indonesia. Karena mereka tidak punya uang perawatan untuk waktu yang lama. Dokter yang menangani John mengatakan, bahwa biaya pengobatan sudah ada yang menanggung. Dokter itu mengatakan saat John tiba di RS memang kondisinya sangat kritis. Bahkan dalam keadaan meninggal. ”Ketika saya terbangun di RS itu, saya bertanya kepada seorang perawat, dari mana asalmu? Perawat itu menjawab dari India. Lalu saya bertanya lagi, di mana saya ini? Apakah saya di India? Lalu dokter yang merawat saya mengatakan kalau saya berada di Singapura. Saya merasakan bahwa saya seperti sudah mati. Namun saat saya melihat istri saya, saya merasakan ada damai sejahtera dan sukacita,” jelas pembicara Penyegaran Rohani Kristen Protestan di RCTI ini.

John bercerita tentang pelayanannya. Sekitar 3 tahun lalu di Kupang. Saat itu ia harus memimpin KKR di sana. Namun, beberapa jam sebelum memimpin KKR, John mengalami susah buang air kecil dan itu membuat dia merasakan sakit. Setelah dilakukan pemeriksan di RS terdekat, ia harus di kateter dan rumah sakit menyarakan dia untuk dirawat dulu. Namun, ia bersikeras tidak mau dirawat. Ia ingin terus melakukan KKR yang sudah dipersiapkan. Kalau tidak mampu atau tidak memungkinkan lagi, John baru mau membatalkan KKR atau pelayanannya. Sakit yang pernah dialaminya bisa menjadi kesaksian dalam pelayanannya. ”Kami pernah melakukan KKR di Maumere. Di sana banyak orang menderita sakit kulit. Saya mendoakan orang-orang di sana. Mungkin saya diizinkan Tuhan sakit kulit supaya merasakan penderitaan yang sama seperti mereka,” ungkap John yang yakin banyak orang berdoa bagi kesembuhannya.

“Ketika kita kembali ke rumah Bapa, kita hanya bawa jiwa. Itulah yang menjadi fokus Pak John. Dia tidak pernah pikirkan dirinya sendiri,” kata Mary.

Sumber: Majalah Bahana, Juni 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s