SEPUCUK SURAT DARI SEORANG GADIS UNTUK AYAHNYA (by Ed.Cole “Suami Idaman”)

Ayah yang terkasih :

Saya adalah seorang gadis berusia 13 tahun. Saya berbakti di sebuah gereja yang beberapa orang prianya mempunyai masalah di dalam pernikahan mereka, dan beberapa di antaranya berpikir untuk bercerai. Jika anda adalah seorang ayah yang sedang berpikir untuk meninggalkan keluarga anda, saya tidak percaya bahwa anda benar-benar menyadari apa yang akan terjadi dengan anak-anak anda. Orangtua saya bercerai, dan inilah pemikiran saya dari sudut pandang seorang anak.

Mungkin saya terlihat seperti seorang gadis normal berusia 13 tahun. Secara lahiriah saya tersenyum dan menunjukkan sikap positif dan bahagia, tetapi di dalam batin saya menjerit sangat keras untuk suatu kehidupan keluarga yang “normal“. Anda tahu, ayah saya meninggalkan ibu ketika saya berusia 18 bulan. Oh, mungkin ia mengira bahwa saya terlalu kecil untuk merasakan akibat dari perceraian itu, tetapi betapa kelirunya dia!

Bagaimana dengan komitmen, janji yang sudah dibuat kepada ibu saya dan terutama sekali kepada Allah? Bagaimana ia dapat membuat keputusan yang begitu egois untuk meninggalkan kami? Pernakah ia memikirkan bahwa keputusannya itu mempengaruhi banyak kehidupan lainnya? Dapatkah ia memahami apa yang saya rasakan dan apakah ia menyadari bahwa ia menimbulkan ketakutan di dalam diri saya seumur hidup?

Saya hanya ingin menjadi seorang anak yang normal. Adakah yang salah dengan keinginan ini?  Selama 10 tahun terakhir ini, saya duduk di restoran-restoran, memperhatikan keluarga yang lengkap di sekitar kami. Sambil membayangkan seperti apakah rasanya jika mempunyai seorang ayah di rumah, ayah yang memberikan ciuman selamat malam dan mendengarkan saya berdoa. Ayah yang menonton saya bermain voli dan basket, melihat rapor sekolah saya, menemui guru-guru saya, atau bahkan mungkin mengatakan kepada saya,”Aku mengasihimu”. Namun para pramusaji itu hanya melihat senyum di wajah saya. Tidakkah ayah saya tahu bahwa ia sangat menyakiti saya?

Jika Allah memberikan saya kesempatan untuk mengajukan satu permintaan, saya akan meminta agar ayah saya melihat saya bertumbuh. Setiap Natal ia mengirimi saya hadiah. Membelikan saya boneka-boneka binatang dan pakaian-pakaian yang hanya dapat dikenakan oleh anak berusia 5 tahun. Saya kira ia masih menganggap saya sperti seorang anak kecil dan akan selalu seperti itu. Ia tidak datang pada hari ulang tahun saya. Ia tidak hadir dalam acara-acara di sekolah saya, atau pada acara penerimaan hadiah pramuka saya. Ia tidak pernah menemui guru-guru saya dan tidak pernah melihat rapor saya. Ibu dan neneklah yang selalu menunjukkan bahwa mereka sangat mengasihi saya sehingga mereka mau melakukan segalanya agar saya berbahagia.

Saya yakin, 10 tahun yang lalu ketika ayah saya membuat keputusan untuk meninggalkan kami, ia berpikir bahwa ia tetap bisa menjadi seorang ayah yang baik dan selalu ada untuk saya. Ya, waktu mengubah segalanya. Ia mulai mengunjungi saya seminggu sekali, lalu dua minggu sekali. Kemudian, ia pindah ke negara bagian lain. Sejak itu, saya hanya sekali bertemu dengannya. Ia jarang menelepon. Pernahkah ia menyadari bahwa hubungan dengan putrinya (saya) berakhir dengan cara seperti ini?

Saya kira anda bisa mengatakan bahwa ibu saya, ya, ibu dan ayah bisa bersatu lagi. Menurut saya, perceraian itu menimbulkan kesulitan baginya dan samapai sekarang tetap sulit, namun ia dapat mengatasinya dengan baik. Ibu berusaha mengimbangi kebutuhan saya yang tidak mempunyai ayah dan ia tidak mempunyai waktu untuk keluar yang memungkinkan dia mendapatkan suami baru. Ia melakukan dua pekerjaan dan sekarang kami memiliki rumah sendiri. Menurut saya, ibu tidak memiliki banyak uang, tetapi kami tidak kekurangan. Allah pasti bersama kami.

Ibu memastikan bahwa saya memasuki sekolah dan gereja yang baik. Ia hadir dalam acara-acara sekolah saya dan mengambil cuti untuk menghadiri acara pertandingan voli dan basket saya. Ibu juga mengerjakan tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan oleh seorang “ayah“, seperti membawa saya berkemah dan bahkan ia menjadi asisten pelatih basket di YMCA tahun lalu. Ia memikirkan saya lebih daripada dirinya sendiri, jauh lebih banyak daripada yang dilakukan oleh ayah saya.

Kadang-kadang, saya menganggap ayah saya seperti seorang teman karena ia tidak bersikap sebagai seorang ayah sejati. Saya yakin bahwa ayah saya tidak tahu apa artinya “ayah”. Sekali pun ia memahaminya, ia bukanlah tipe orang yang mau saya panggil ayah. Kata itu -ayah- bagi saya berarti seseorang yang dapat memegang komitmen, bukan saja terhadap istrinya, melainkan juga terhadap anak-anaknya. Bagi saya, kata itu (ayah) juga berarti bahwa ada seseorang yang mengasihimu, mempedulikanmu dan tidak berdusta kepadamu mengenai apapun.

Saya mengatakan kepada ayah bahwa saya sungguh-sunguuh mengasihinya, tetapi jauh dilubuk hati saya, setelah apa yang dilakukannya terhadap saya, saya merasa bahwa ia adalah orang lain. Saya sadar bahwa apa yang saya katakan ini adalah hal yang mengerikan, namun apa yang anda harapkan untuk saya katakan? Ayah meninggalkan saya dan ibu dalam keadaan keuangan yang tidak begitu baik, melukai hidup seorang anak dengan begitu buruknya sehingga tidak dapat dimaafkan dan anda berharap saya berkata, oh, itu TIDAK APA-APA? Saya kira TIDAK!!

18492162-3d-people-man-people-thinking-with-red-question-marks-above-his-head-over-Stock-Photo

Saya menduga bahwa anda menganggap saya benar-benar tidak menjadi diri saya sendiri dalam dua tahun terakhir ini. Ketika saya pergi ke sekolah dan seseorang berbicara mengenai ayah-ayah, saya hanya terdiam dan membayangkan mempunyai seorang ayah. Jika teman-teman saya berbicara mengenai ayah mereka tepat di depan saya, saya mengalhkan pembicaraan itu, berusaha menghindarinya dan membicarkan hal lain.

Mungkin anda tidak berpikir bahwa hal ini akan terjadi jika anda bercerai. Nah ini adalah petunjuk bagi anda – anda bukan seorang anak, anda tidak tahu apa yang dirasakan oleh seorang anak. Anda tidak tahu apa yang dirasakan atau dipikirkan oleh anak anda… dan kemungkinan besar belum pernah mendengar seorang gadis berusia 13 tahun mengungkapkanisi hatinya kepada orang lain. Selama ini, saya menyimpan semua masalah dan perasaan saya sendiri. Jadi, jika anda menginginkan nasihat dan anda ingin tahu apa yang diraskan oleh anak anda, anda harus sungguh-sungguh mempertimbangkan apa yang sudah saya katakan.

Ayah saya memperoleh apa yang diinginkannya. Ia tidak bertanggung jawab kepada saya. Ia memperoleh kebebasannya. Ia berkencan dengan banyak gadis, hidup dengan mereka bahkan menikah dengan gadis terakhir yang ia hamili. Saya hanya berharap ayah saya sekarang berbahagia setelah segala sesuatu yang dilakukannya. Ya, ayah saya mengira bahwa perceraian akan membuatnya bahagia, tetapi ternyata – ia tidak bahagia terhadap dirinya sendiri. Ia berjudi dan tidak menyadari bahwa ia telah kehilangan gadis kecilnya.

Jika anda sedang memikirkan perceraian, pikirkanlah masak-masak. Bukan hanya Allah yang menangis dengan sedihnya, melainkan juga anak-anak anda. Menjadi seorang ayah ayng baik “dari luar” tidaklah mungkin. Jadilah kuat dan menjadi suami serta ayah yang pernah anda janjikan. Jika menjadi seorang ayah penting bagi anda, tetaplah terikat dengan pernikahan anda.

Pikirkanlah anak-anak anda. Mereka meminta kasih anda dan janji-janji anda digenapi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s