UANG : TUAN atau HAMBA (part two) (by Ed. Cole “Communication, Sex & Money”)

Seseorang bernama Dave ingin menjadi orang yang berhasil. Kuliah, bisnis, semuanya merupakan kunci kepada keberhasilan di dalam dunia ini. Idenya tentang keberhasilan adalah “menjadi seseorang”. Untuk melakukan hal itu, ia perlu berhasil di dalam bidang finansial. Untuk mencapai tujuan itu, ia harus menapaki jenjang perusahaan.

Namun ia tidak pernah berhasil mendapatkan promosi yang diinginkannya. Hal ini sangat mempengaruhi kestabilan emosionalnya. Jika pekerjaannya berjalan baik, keadaannya juga baik, tetapi jika pekerjaannya tidak berjalan baik, ia mengalami tekanan dan kesulitan.. Kesulitan itu dilampiaskannya kepada istri dan anak-anaknya. Kehidupan mereka seperti sebuah “yo-yo” atau “komedi putar” naik turun dari hari ke hari.

Istri dan anak-anaknya yang mencintainya dengan sungguh-sungguh menanggung pukulan terberat dari luapan emosinya, luapan ketidaksabarannya dan kemarahan yang diakibatkan oleh rasa frustasinya. Orang-orang di tempat kerjanya yang membuat ia merasa kesal tidak pernah merasakan kekesalannya – tetapi keluarganya yang mencintainya, yang berdoa baginya menderita akibat permusuhannya dengan orang lain.

Kehidupan Dave diatur oleh lingkungan, bukan oleh iman. Dave mengukur keberhasilannya berdasarkan jabatan atau kedudukannya di dalam suatu perusahaan, sementara Allah mengukurnya melalui pengembangan KARAKTER. Menyerupai Kristus adalah contoh dari pengembangan Karakter.

Dave tidak pernah memperoleh apa yang dicarinya, karena ia menempatkan “benda-benda” sebagai prioritas utama – dan Allah hanya dianggap sebagai pelengkap.

Firman Tuhan berkata,”…Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33)

Dave tidak menempatkan Allah sebagai yang paling utama di dalam hidup mereka. Bagi Dave, Allah bukanlah sumber yang paling utama bagi kehidupan mereka, dan Allah bukanlah jalan keluar bagi masalah-masalah mereka. Allah hanya menjadi obyek yang menyenangkan mereka. Mereka menyembah Allah bila suasana hati dan perasaan mereka sedang bahagia.

Kita harus mencari Allah untuk menemukan-Nya. Kita harus mengejar hikmat-Nya seperti seseorang yang mencari harta terpendam.

Allah yang memberi hikmat untuk menjadi kaya.

Uang itu sendiri adalah amoral. Moralitas uang ditentukan oleh SIFAT orang yang memakainya. Uang bisa menjadi berkat atau kutuk, tergantung pada penggunannya. Manusia menentukan arti uang.

“Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang” (1 Timotius 6 : 10) demikian Firman Tuhan. Nafsu akan uang akan membuat manusia menjadi HAMBA.

Penggunaan uang yang benar akan mendatangkan kemakmuran. Investasi yang bijaksana membawa kepada rasa aman (sekuritas) dan stabilitas keuangan.

Seorang pria mempunyai kecenderungan untuk melihat keberadaannya sebagai pria dalam hal KEUANGAN. Tetapi Allah menghendaki kaum pria menggenapi pengertian kepriaan mereka melalui HUBUNGAN mereka dengan diri-Nya, bukan melalui pencapaian keuntungan material.

Namun Allah tidak pernah menghendaki manusia hidup tanpa keuntungan. IA menghendaki manusia TERLEBIH DAHULU mencari Kerajaan Allah, maka keuntungan akan ditambahkan kepadanya.

Kemakmuran adalah sesuatu yang alami, suatu rangkaian KETERATURAN yang merupakan HASIL dari Kebenaran di dalam kehidupan. Dimana ada kebenaran, disitu ada Kemakmuran. Ini adalah sebuah prinsip kehidupan..

Menjadi KAYA tidaklah salah; yang salah adalah menaruh KEPERCAYAAN pada kekayaan, berpikir bahwa anda mempunyai kekuasaan untuk memisahkannya dari kehendak Allah, menggunakannya untuk kepentingan diri sendiri, mengejarnya dengan penuh nafsu, mencarinya dengan cara-cara “ cepat menjadi kaya”, mendapatkan dan menggunakannya secara tidak halal.

Kekayaan bukanlah sesuatu yang salah. Yang salah adalah apa yang diperbuatnya terhadap kita. Kekayaan dengan penggunaan secara benar bisa menjadi berkat.

Fakta bahwa kekayaan itu menipu adalah bila anda berpikir bahwa segala yang anda miliki itu sudah cukup, itu tidak akan pernah, tetapi anda masih membutuhkan lebih lagi. Tidak pernah ada rasa puas.

Kepuasan itu perlu karena ia akan menghilangkan tipu muslihat moneter.

Bagaimana dengan anda ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s