The COMMUNITY REPLACEMENT (by Ed. Cole “On becoming a Real Man)

The Community Replacement (by Ed. Cole “On becoming a Real Man)

Memasuki bulan Desember, setiap Mall dan tempat rekreasi penuh dengan hiasan-hiasan untuk merayakan Natal. Biasanya di pajang pohon Natal yang besar dan Sinterklas yang ditunggu-tunggu sejumlah anak-anak untuk mendapatkan hadiah. Media film pun diramaikan dengan film yang kebanyakan menampilkan tokoh Sinterklas yang menandakan perayaan Natal. Bahkan di rumah-rumah terutama rumah orang Kristen pajangan Natal membawa sebuah atmosfir sukacita yang baru..

Namun, ada satu hal yang hilang yaitu YESUS KRISTUS yang merupakan INTI sesungguhnya perayaan tersebut. Orang sudah kehilangan alasan utama yang menyebabkan adanya perayaan itu sendiri! Sinterklas disanjung-sanjung menggantikan Kristus. Dalam kurun waktu +/- 100 tahun  hal itu terjadi terus menerus.

Dalam banyak hal, dunia kita ini telah ditipu dengan cara serupa. Kita menjadi “masyarakat pengganti” (Community Replacement)  bukan hanya pada saat Natal.

Pemanis buatan, inseminasi buatan, bank sperma; ayah atau ibu pinjaman, pasangan seks yang berganti-ganti; bahkan hiasan Natal yang kita nikmati setiap tahunpun merupakan bagian dari masyarakat pengganti yang kita tinggali ini. Kita mengganti permata asli dengan permata tiruan, kulit asli dengan kulit imitasi, sutera dengan kain sintetis, kayu dengan plastic, barang-barang asli dengan tiruannya. Berbagai macam bahan digantikan dengan benda tiruannya, yang umumnya KWALITASNYA lebih RENDAH.

Memang ada sejumlah pengganti yang sah-sah saja untuk digunakan dan justru diperlukan dalam hidup ini, namun tidak sedikit pula yang berbahaya dan BERSIFAT MENGHANCURKAN. Mengganti NILAI-NILAI MORAL yang MUTLAK dengan nilai-nilai yang RELATIFmisalnya jelas akan mendatangkan akibat yang mengerikan.

Falsafah yang mendasari pengajaran relativisme adalah : Tidak ada satupun NILAI yang bersifat MUTLAK, atau seperti kata para pendukungnya, nilai adalah “urusan pribadi” masing-masing orang. Hal ini jelas terjadi mulai dari zaman Hakim-Hakim (Perjanjian Lama), setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri (Hakim-hakim 21 : 25)

Dr. Sidney Simon dan Merril Harmin mengajar para pendidik bahwa adalah keliru jika mengajarkan kepada murid bahwa membunuh dan mencuri itu adalah perbuatan jahat . Mereka juga mengajarkan bahwa kejujuran dan kesetiaan itu merupakan sikap yang baik juga sama kelirunya. Menurut mereka, seorang guru hanya perlu membantu para muridnya memperjelas nilai-nilai yang mereka percayai sendiri.

Mr. Baer, Rektor kepala New York State College menulis dalam Wall Street Journal bahwa metode “klarifikasi nilai-nilai” itu pada dasarnya menyerukan pesan kepada generasi muda bahwa orang tua, sekolah dan masyarakat tidak berhak memaksa kaum muda menganut standar tertentu yang akan menjadi patokan prilaku kehidupan mereka sehari-hari, khususnya dalam hal seksualitas. Falsafah dan ajaran semacam ini sama saja dengan memberikan pisau dan garpu kepada kaum kanibal untuk memperbaiki kehidupan mereka.

Akibat dari pencemaran nilai ini kita dapat melihat penurunan etika moral baik di keluarga, sekolah dan masyarakat zaman sekarang dibandingkan 50 tahun yang lalu, karena waktu yang lalu ketika kita masih remaja nilai kekudusan masih dipelihara dalam hubungan sebelum menikah. Pria dan wanita dahulu sangat malu kalau berciuman di muka umum, tetapi sekarang orang melakukan hubungan seks di tempat umum bukanlah suatu hal yang memalukan.

Praktek penggantian nilai semacam ini menghasilkan falsafah-falsafah hidup dan perilaku yang dengan jelas memperlihatkan ketidakkonsistenan dalam bersikap. Orang-orang terperangkap dalam system masyarakat pengganti ini menyebut hal-hal yang baik sebagai sesuatu yang jahat dan sebaliknya hal-hal yang jahat mereka katakan baik. Yesaya 5 : 20 jelas mengatakan demikian,”Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit.”

Lebih celaka lagi, penganut falsafah relative yang berkembang menjadi pendapat umum berpendapat bahwa KESELAMATAN di dalam YESUS KRISTUS adalah sesuatu yang bersifat relative, bukan mutlak. Jadi bukan hanya Yesus satu-satunya jalan ke surga.

Bagi sementara orang, lebih mudah untuk menjadikan Allah sesuai dengan gambaran mereka sendiri daripada mengubah diri mereka menjadi serupa dengan gambar-Nya (Roma 1:21-24; 8:29)

CAMKANLAH pesan ini : YESUS KRISTUS adalah satu-satunya Tuhan dan Juruslamat kita. “…Keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam DIA (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4 : 12). Demikian juga dengan nilai-nilai Kebenaran yang diajarkan-Nya di dalam Alkitab…

Dampak negative dari falsafah relative ini berkembang menjadi :

  1. UANG menggantikan KASIH SAYANG : Banyak pria lebih senang memberi istri mereka lembaran cek daripada pelukan yang hangat atau ciuman kasih sayang. Memang jauh lebih mudah memberikan uang daripada memberikan diri sendiri.
  2. BENDA menggantikan WAKTU : Banyak pria lebih suka membelikan anak-anaknya mainan atau benda-benda lain daripada meluangkan waktu bersama mereka, padahal memberikan diri sendiri merupakan bukti kasih yang nyata (Yoh. 15 : 13)

Bahkan di kalang kaum Kristen, orang sering mengganti :

  1. URAPAN dengan TALENTA : Suatu bukti bahwa orang lebih mengandalkan hal-hal yang eksternal (fenomenal) daripada yang internal. Namun kita harus menyadari bahwa Allah memperhitungkan karakter, bukan talenta
  2. PERTOBATAN dengan PENYESALAN : Dukacita karena ketahuan berbuat salah tidak sama dengan dukacita karena sadar telah melakukan dosa.
  3. PERINTAH ALLAH dengan TRADISI : Tata peribadatan gereja tidak sama dengan Kekristenan.
  4. KEBENARAN dengan KEHORMATAN : Kita tidak diselamatkan oleh system budaya yang kita miliki, tetapi oleh darah Kristus. Ada orang yang secara lahiriah bernasib baik, namun karunia alami itu bukanlah pengganti kasih karunia yang menyelamatkan jiwa.
  5. KETAATAN dengan SEMANGAT : Sebagian orang telah salah mengartikan pengalaman emosionalnya bersama Allah sebagai kasih yang sejati kepada Allah.
  6. HUBUNGAN dengan ALLAH dengan SIMBOL STATUS : Kemewahan gedung gereja, berbagai latihan rohani dalam pelayanan dan berbagai peribadatan lainnya tidak dapat menggantikan  hubungan yang sangat penting yang harus dijalin dengan Allah yang hidup.

Bagaimana dengan anda ???

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s