YESUS : SANG PRIA (“On becoming .. a Real Man” by Ed. Cole) (Bagian Kedua)

YESUS : SANG PRIA (“On becoming .. a Real Man” by Ed. Cole) (Bagian Kedua)

Image

Yesus Kristus adalah Pria yang paling perkasa dan paling luar biasa. Dia bukanlah pria yang lunglai, tanpa daya, tidak berwibawa ataupun mudah dipengaruhi seperti yang sering ditampilkan dalam berbagai buku dan lukisan hasil karya para penulis dan pelukis yang sesat. Diaadalah Pria yang sejati. Dia dapat BERTINDAK dengan kelemahlembutan yang luar biasa dan belas kasih yang tulus terhadap janda, orang sakit, atau orang yang kekurangan; namun bila berhadapan dengan kefanatikan dan kemunafikan, murka-Nya yang menyala-nyala akan bangkit dalam bentuk kemarahan yang benar.

Image

Ketika Dia melihat rumah tempat menyembah Bapa-Nya dicemari oleh ketidakjujuran dan kecurangan para penukar uang, dengan penuh murka Dia mengusir mereka ke luar dan berusaha memulihkan rumah Bapa-Nya sebagai rumah doa (Matius 21:12)

Hikmat-Nya mencengangkan para sarjana keagamaan, menghardik ahli-ahli hukum, namun sekaligus menyingkapkan sifat Allah yang sejati sebagai Bapa kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dia mengatakan kepada para pemuka agama bahwa KETIDAKTULUSAN dan KEMUNAFIKAN mereka akan menjauhkan mereka dari sorga, sedangkan para pemungut cukai dan pelacur yang bertobat dikatakan-Nya akan disambut di sorga. Orang-orang Farisi dicela sebagai “kubur yang dilabur putih” dan “ular beludak” karena mereka berdoa panjang-panjang dengan suara yang amat keras agar didengar oleh semua orang. Namun, secara diam-diam mereka mencuri harta milik orang yang sudah berumur dan lemah (Matius 23 : 13-33)

Ketika berhadapan dengan orang-orang agamawi, yang berhasrat memperlihatkan kesalehan mereka yang pura-pura, Dia menelanjangi sifat mereka yang sesungguhnya untuk dilihat oleh dunia ini. Mereka saat itu menyeret seorang perempuan ke hadapan-Nya. Mereka mengatakan bahwa mereka mendapati perempuan itu “berbuat zina” dan menegaskan bahwa menurut hukum Musa perempuan itu harus dilempari batu sampai mati.  Mereka menantang-Nya untuk melihat apa yang hendak dikatakan atau dilakukan-Nya (Mungkin, seandainya itu saya, saya akan terlebih dahulu bertanya, bagaimana mereka dapat menemukan perempuan itu)

Image

Dengan berani Dia memandang mata mereka dan berkata,”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yohanes 8:7). Satu demi satu, orang-orang itu menyingkir pergi sehingga hanya tinggal perempuan itu dengan Yesus. Perempuan itu memang seorang yang sangat berdosa, namun ia kini berdiri dihadapan Juruselamat yang agung. Yesus dengan tenang, ramah dan lembut mengatakan,”Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh. 8 : 11)

Dia adalah seorang Pria yang penuh belas kasihan, bersikap kesatria dan lemah lembut pada orang-orang yang berkekurangan. Namun sikap-Nya yang tidak berkompromi dalam membedakan yang benar dan yang salah membuat-Nya tidak takut menegur orang yang bersalah, apa pun status dan kedudukan mereka. Ketika di kota asal-Nya sendiri Dia diperlakukan dengan sinis dan tidak percaya oleh penduduk setempat, Dia tetap tidak gentar. “Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”, jawab-Nya dengan bijak menanggapi penghinaan itu (Lukas 4 : 24)

Dia tidak takut kepada orang banyak itu. Ketika mereka menolak pernyataan-Nya bahwa Dia telah diurapi untuk melakukan pelayanan-Nya, Dia hanya berjalan lewat di tengah-tengah mereka. Keagungan pribadi-nya membuat tidak seorangpun berani menjamah diri-Nya (lukas 4 : 30)

Keseimbangan hidup-Nya yang begitu sempurna menunjang martabat yang tidak tertandingi oleh tokoh-tokoh sejarah lainnya, baik yang hidup sebelum maupun sesudah diri-Nya. Yesus mengetahui benar IDENTITAS diri-Nya. Inilah yang menjadi DASAR KEKUATAN-NYA yang terlihat dalam berbagai bentuk hubungan yang dijalin-Nya. Dia mengerti siapa diri-Nya, apa tujuan hidup-Nya dan apa yang harus diselesaikan-Nya.

Yesus tidak pernah kehilangan kesabaran. Dia mengalami penghinaan paling memalukan yang pernah ditimpakan kepada manusia. Namun, dari atas kayu salib, di tengah kepedihan-Nya yang tidak terhingga, Dia memandang ke bahwa dan melihat ibu-Nya berada di dekat murid-Nya, Yohanes. Dengan sangat lemah lembut, Dia meminta Yohanes untuk menjaga dan memperlakukan ibu-Nya seperti ibunya sendiri (Yoh. 19 : 26-27)

Bersambung …….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s