YESUS : SANG PRIA (“On becoming .. a Real Man” by Ed. Cole) (Bagian Ketiga)

YESUS : SANG PRIA (“On becoming .. a Real Man” by Ed. Cole) (Bagian Ketiga)

Image

Kehidupan Yesus berakar dalam-dalam pada DOA. Sumber persiapan Yesus yang paling besar adalah doa. Ketika orang-orang lain menuntut dilakukannya suatu tindakan, Dia tetap bertekun dalam doa. Dia tahu bahwa Kerajaan yang tengah dibangun-Nya itu akan terus berlanjut lama sesudah Dia meninggalkan bumi ini. Oleh karena itu, Dia sadar bahwa segala sesuatu yang dilakukan-Nya harus selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Ketaatan-Nya pada kehendak Bapa dinyatakan-Nya terlebih dahulu dalam doa sebelum diwujudkan-Nya dalam perbuatan.

Yesus mengetahui benar – lebih dari siapapun – arti “menggerakkan lengan Allah melalui doa”. Bagi-Nya, bersyafaat bukan merupakan suatu aktivitas, melainkan telah menjadi gaya hidup-Nya. Untuk memastikan diri-Nya dalam mengambil keputusan yang benar, Dia meluangkan waktu semalam suntuk untuk berdoa (Luk. 6 : 12-13). Ketika mempersiapkan diri untuk menghadapi pencobaan terbesar di Kalvari, Dia berdoa hingga pori-pori-Nya berdarah. Darah-Nya bertetesan keluar seperti keringat di dahi-Nya. Ketekunan-Nya dalam berdoa akan terus dikenang selama-lamanya semenjak malam doa yang panjang di Getsemani itu (Luk. 22 : 39-46)

Yesus mengenal kekuatan dan kelemahan kita, serta kemampuan dan keterbatasan kita. Dia memiliki teknik ‘manajemen personalia” yang sedemikian rupa sehingga mampu mengembangkan POTENSI MAKSIMAL yang terdapat dalam diri orang-orang yang mengikuti-Nya. Kemampuan-nya melatih dan mengelola manusia sangatlah luar biasa, sehingga orang-orang yang dilatih-Nya benar-benar mengubah sejarah.

Setiap kali Dia berbicara, nasihat-Nya selalu tegas, tidak samar-samar ataupun janggal. Dia selalu menyatakan kebenaran. Pada orang yang kaya, egois dan serakah, Dia mengatakan bahwa lebih mudah bagi seekor unta untuk memasuk lubang jarum daripada bagi mereka untuk memasuki Kerajaan Sorga (Matius 19:24). Bahkan, Petrus pun merasakan sengatan kebenaran-Nya ketika Yesus mengatakan,”Engahlah Iblis” (Matius 16:23). Dengan jelas Dia mengatakan kepada Peterus bahwa ia perlu mengubah sikapnya karena telah bertindak seperti iblis.

Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari sudara-Ku yang paling hina ini (lapar, telanjang, sakit, di penjara, berada di tempat asing), kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25 : 40). Pencetus KEPEDULIAN SOSIAL ternyata bukan kaum humanis modern. Yesuslah PELOPORNYA dan Dia menjadikan hal itu sebagai salah satu unsur dasar dalam gereja. Berbagai tindakan paling mulia yang ada di seluruh dunia ini seperti perbuatan kasih, penanaman modal dalam usaha pelebaran Kerajaan Allah, dan pengorbanan nyawa dilakukan oleh orang-orang yang menerima kehendak Allah bagi kehdiupan mereka dalam melaksanakan perintah Kristus.

Kasih dan pengampunan Yesus sungguh tidak mengenal batas.

Image

Ketika mengadakan perjamuan terakhir dengan murid-murid-Nya, Yesus memperhatikan bahwa mereka tidak melakukan penghormatan yang lazim dilakukan, yaitu membasuh kaki para tamu. Tidak ada seorang pun yang menawarkan diri untuk membasuh kaki-Nya. Namun, Dia tidak menegur kekhilafan mereka itu, tetapi mengambil sebuah baskom dan sehelai kain lenan, dan dengan rendah hati Dia membasuh kaki mereka. (Yoh. 13 : 1 – 17)

Petrus lagi-lagi berusaha menegur Tuhan yang mau melakukan pekerjaan yang rendah dan hina itu. Namun, Petrus justru perlu belajar tentang kerendahan hati (Yoh. 13:8)

Kemuliaan yang sejati sesungguhnya terwujud dalam KERENDAHAN HATI yang sejati pula.

Yesus mengajarkan bahwa mampu tidaknya seorang dalam memimpin ditentukan oleh tingkat kerellannya daklam melayani orang lain. (Matius 20 : 26-28)

Kerendahan hati bukanlah sikap atau cara berbicara yang merendah, melainkan KERELAAN UNTUK TIDAK DIKENAL ATAU DISANJUNG. Itulah INTI kerendahan hati.

Yesus tidak hanya mengajar orang banyak, Dia juga melatih mereka. Untuk melatih seseorang, anda harus meluangkan waktu, memberikan diri anda, menanamkan pengertian, mengembangkan ketrampilan murid-murid anda, dan mendorong mereka untuk melatih orang lain yang pada giliriannya akan melatih orang lain lagi (Prinsip pemuridan) .

Image

Karya yang telah diselesaikan Yesus selama masa tiga tahun yang singkat itu membentang di sepanjang halaman sejarah dan menghasilkan suatu kisah yang baru mengenai kemanusiaan, serta memberi arti yang kekal bagi setiap kehidupan manusia. Sifat karya penebusan-Nya yang luar biasa itu membuat orang seringkali mengabaikan karakter-Nya sebagai Manusia, yaitu sifat-sifat yang dimiliki-Nya sebagai Pria.

Pribadi-Nya yang begitu mulia itu menyebabkan manusia menghormati-Nya dengan cara memuliakan Dia, memberikan kepada-Nya Nama di atas segala nama, dan suatu hari setiap lutut akan bertelut di hadapan-Nya dan setiap lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Bapa (Filipi 2 : 10-11)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s