YESUS : SANG PRIA (“On becoming .. a Real Man” by Ed. Cole) (Bagian pertama)

YESUS : SANG PRIA (“On becoming .. a Real Man” by Ed. Cole) (Bagian pertama)

ECCE HOMO!

“Lihatlah (Manusia) Pria itu!”

Yesus menyatakan diri-Nya “dalam keadaan sebagai (Manusia) Pria” (Filipi 2 : 8). Apapun sebutan lain yang dimiliki Yesus, yang jelas Dia adalah seorang (Manusia) Pria. Allah Bapa sendiri menyatakan Dia sebagai “Anak (laki-laki) Manusia”. Di masa sengsara sekaliun Yesus tetap tampil sebagai Pria Sejati!

Bahkan Pilatus, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Roma untuk wilayah Israel, mengabarkan kepada dunia bahwa ia telah melihat seorang Pria Sejati (Yoh. 19 : 5). Ia telah melihat begitu banyak pria yang menghadapi saat-saat genting mereka di hadapan mimbar pengadilannya ketika ia menghakimi para pria itu dan menjatuhkan hukuman atas diri mereka. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri karakter dari para pesakitan itu tersingkap waktu TEKANAN sidang pengadilan meluluhkan segala kepura-puraan mereka. Namun, ketika Pilatus melihat Yesus, ia merasa kagum dan hormat.

Pilatus mencari jalan untuk menghindari tuntutan orang banyak, namun politik sudah terlanjur menjadi darah dagingnya – maka jadilah ia pakar dalam seni BERKOMPROMI, yang selalu sanggup melakukan hal yang cerdik untuk mempertahankan kedudukan dan kekuasaannya. Maka, ia pun membungkuk di hadapan orang banyak, dan setelah menyatakan pikiran dan perasaannya sehubungan dengan Pria yang hendak mereka salibkan itu, ia mengatakan,”Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya”. Ketika Pilatus membasuh tangan-Nya di hadapan massa yang murka dan berseru-seru meminta agar Yesus disalibkan, sesungguhnya ia bermaksud memperlihatkan kepada para pemuka agama dan orang banyak bahwa ia tidak ingin tangannya ikut terlumuri oleh darah Pria yang benar itu (Matius 27:24). Pilatus kemudian menyuruh agar tulisan “Raja orang Yahudi” dibuat dalam bahasa Latin, bahasa Yunani dan bahasa Ibrani (Yoh. 19 : 19-20. Bahasa-bahasa itu masing-masing merupakan bahasa pemerintahan, bahasa kebudayaan, dan bahasa keagamaan yang berlaku saat itu. Dengan demikian ia menyatakan kepada setiap orang di segala tempat dan lingkungan SIAPA Yesus sebenarnya

Yesus dilahirkan di dalam kandang domba, dibesarkan di rumah seorang tukang kayu, dan bekerja di bengkel pertukangan. Dia hidup sebagai rakyat jelata, namun dengan perilaku secara bangsawan. Dia tidak pernah memiliki rumah sendiri selama masa pelayanan-Nya di bumi, namun Dia jarang tidak mendapatkan tempat bermalam atau makanan. Dia mati di atas kayu salib sebagai musuh pemerintah dan dikuburkan di dalam kubur pinjaman.

 

Namun, melalui segala sesuatu yang dilakukan-Nya di muka bumi ini, Dia berhasil mencapai suatu tujuan hidup yang jauh lebih berharga daripada hidup itu sendiri.

Yesus hidup selama tiga puluh tiga tahun. 30 tahun pertama dari kehidupan-Nya merupakan MASA PERSIAPAN bagi pelayanan-Nya yang hanya berlangsung selama 3 tahun. Jadi saat Dia berbicara tentang kesabaran, Dia telah menjalaninya sendiri. Dia tidak pernah tergesa-gesa, baik dalam perkataan dan perbuatan-Nya; Dia senantiasa menunggu sampai tiba waktu tepat. Kesabaran-Nya itu adalah buah dari persiapan yang dijalani-Nya…

Kehidupan-Nya adalah terang (bagi) manusia” (lihat Yoh. 1 : 4), jalan-Nya adalah jalan kebenaran, perbuatan-Nya ditandai dengan kekekalan, dan Dia memeprlihatkan semuanya ini dan banyak hal lain melalui setiap perkataan, sikap dan pengaruh-Nya.

Bersambung ………

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s