KEPALSUAN INJIL BARNABAS

Pada tahun 1709, dunia Kristen digemparkan oleh berita tentang adanya injil aneh yaitu Injil Barnabas yg ditulis dalam bahasa Italia. Injil aneh ini ditemukan oleh Cremer, seorang penasehat Raja Prusia. Saat ini injil aneh tersebut disimpan di sebuah museum di Wina, Austria.bible-barnabas

Injil Barnabas dikatakan aneh karena isinya sangat berbeda dengan Injil yg sudah dibakukan sejak tahun 325. Setelah dilakukan penelitian dengan seksama, diketahui bahwa ternyata kertas yg digunakan sebagai media untuk menulis injil aneh tersebut adalah kertas yg lazim digunakan orang antara abad ke-14 dan ke-16.

Diperkirakan injil aneh ini ditulis pada tahun 1585, yaitu pada zaman Paus Sixtus V bertakhta dari tahun 1585 sampai dengan tahun 1590. Penelitian selanjutnya menemukan bukti-bukti bahwa penulis Injil Barnabas tersebut adalah seorang Arab beragama Islam bernama –Mustafa de Arande- yg berdomisili di Spanyol dan yang menyamar dengan nama panggilan atau nama palsu Fra Marino. Inilah motivasi Mustafa menulis Injil Barnabas (untuk selanjutnya disebut Injil Palsu Barnabas).

Sebagai seorang pakar muslim, Mustafa tentunya hafal benar akan ayat-ayat yg ada dalam Al Qur’an, antara lain: “… Yesus berkata: … Rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad (Muhammad).” (Qs. 61 Ash Shaaf 6) Ayat inilah yg menggerakkan hati Mustafa untuk membaca Taurat dan Injil. Dengan ketekunan yg luar biasa dibacanya berulang-ulang dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu.
Hasilnya sangatlah tragis, hatinya yg bergelora dan semangatnya yg berkobar berubah menjadi lunglai tak berdaya. Mustafa akhirnya frustasi karena Taurat dan Injil tidak sepatah katapun menyebut atau mengisyaratkan tentang kedatangan nabi yang bernama Ahmad (Muhammad). Mustafa sebelumnya telah membuat kriteria agar nabinya diakui kerasulannya, yaitu dinubuatkan oleh nabi sebelumnya, bernubuat untuk hal-hal yang akan datang dan bermujizat. Tapi ternyata Muhammad sama sekali tidak pernah dinubuatkan dalam Taurat dan Injil, tidak bernubuat dan tidak pula bermujizat.

Apa boleh buat, ambil jalan pintas, potong kompas saja bikin nubuat sendiri, tuliskan injil sendiri dan beri nama Injil Barnabas. Menipu dan mengambil nama palsu tampaknya bisa-bisa saja dan halal-halal saja bagi Mustafa demi membela fantasi agamanya. Mustafa menuliskan di dalam injil palsunya tentang akan datangnya nabi yg bernama Muhammad sebagai berikut:
“Dan ini akan berlangsung sampai datangnya Muhammad Rasul Allah yang ketika datang akan membongkar kepalsuan ini bagi mereka yang percaya dengan syariat Allah.” (Injil Palsu Barnabas 220: 20)

Terjemah Injil BarnabasSebelum ayat di atas, ada pula ayat aneh yg justru menelanjangi Mustafa sendiri. Ayat yg dimaksud tersebut menyebutkan bahwa penulisnya adalah seorang Arab. Hal ini benar-benar sangat aneh, karena seperti yg diketahui, penulis Taurat, Injil dan semua kitab dalam Alkitab seluruhnya adalah orang-orang Yahudi, kecuali Lukas yg menulis Injil Lukas (Lukas adalah seorang Yunani).
Ayat tersebut tidak ada kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya maupun ayat-ayat sesudahnya. Inilah ayat yg dimaksud tersebut:
“Aku tidak sempat membaca kitab itu seluruhnya karena kepala Imam — yang aku berada di ruang bacanya — melarang aku, katanya:” Bahwa seorang Ismaeli yang menulisnya. “
(Injil Palsu Barnabas 192: 4 )

Ayat ini telah membuka kedok dan membongkar niat jahat Mustafa. Mustafa menggali lubang tetapi ia terperosok ke dalam lubang buatannya sendiri. Mustafa terjebak lagi oleh ulahnya sendiri ketika ia menulis dalam injil palsunya demikian:
“Mendakilah Yesus ke Kapernaum dan ia telah mendekat dengan negeri. Tiba-tiba ada seorang yang keluar di antara kuburan, kemasukan setan yang mendalam sehingga tidak satu rantaipun yang kuat mengikatnya, dan menyebabkan bahaya bagi orang banyak. Maka menjeritlah setan-setan itu dari mulutnya katanya: “Ya kudus Allah, mengapa engkau datang sebelum waktunya untuk menggusarkan kita!” Dan bermohonlah mereka kepadanya untuk tidak mengeluarkan mereka. Lalu Yesus menanyakan, berapa jumlah mereka? menjawablah mereka: “Enam ribu enam ratus enam puluh enam.”
(Injil Palsu Barnabas 21: 1-6)

Perhatikan bahwa jumlah 6666 adalah jumlah yg diimani oleh umat Islam sebagai jumlah yg menunjuk ke jumlah ayat dalam Al Qur’an. Jumlah setan sama banyak dengan jumlah ayat dalam Al Qur’an? Hahahaha …

CapernaumMap2Tapi yg membuat orang lebih tertawa lagi adalah ketika Mustafa menggambarkan keberadaan parkir kota Kapernaum. Seperti diketahui, Kapernaum adalah sebuah kota pesisir yg terletak di pantai laut Galilea, yaitu sebuah kota nelayan yg sering dikunjungi Yesus dan murid-muridnya.
Jadi seharusnya Mustafa menuliskan perjalanan Yesus menuju Kapernaum sebagai “turun”, bukan “mendaki”. Mustafa hafal akan ayat-ayat Al Qur’an yg menyatakan bahwa Yesus tidak mati disalib tetapi diangkat ke surga (Qs. 4 An Nisaa 157-158). Tetapi ketika ia membaca Injil, tampak jelas baginya bahwa Yesus mati disalib. Nah, sekalian saja menipu, tidak usah susah-susah, buat saja ayat yg sesuai dengan ayat-ayat yg ada dalam Al Qur’an sebagai berikut:
Dan Allah yang menguji isi hati manusia, mengetahui bahwa kita telah luluh di antara kesedihan atas matinya Yudas yang kita sangka Yesus guru kita itu dan kerinduan untuk melihatnya bangkit lagi.” (Injil Palsu Barnabas 219: 4)

Ouw, rupanya berdasarkan ayat inilah umat Islam mengatakan bahwa yg mati disalib bukan Yesus, tetapi images-2Yudas. Namun sayang, umat Islam melandaskan argumennya pada kepalsuan yg diciptakan oleh Mustafa. Sekarang kita cermati beberapa kekonyolan lainnya dari sekian banyak kekonyolan yg ada dalam Injil Palsu Barnabas. Dalam pendahuluan Injil Palsu Barnabas, penulisnya mengakui Yesus sebagai Kristus. Tetapi dalam pasal-pasal Injil Palsu Barnabas, penulisnya justru menyangkal bahwa Yesus adalah Mesias (Mesias). Hal ini menunjukkan bahwa penulis Injil Palsu Barnabas bukanlah Barnabas rekan kerja para rasul. Sangatlah mustahil apabila Barnabas yg asli orang Yahudi pada abad pertama itu tidak mengerti bahwa istilah Yunani “Kristus” adalah terjemahan dari istilah Ibrani “Massiakh” / “Messiah” (lihat Yohanes 1:41).

Dalam Injil Palsu Barnabas pasal 3, diceritakan bahwa Pilatus sudah memerintah daerah Palestina sebagai gubernur ketika Yesus lahir. Tetapi data-data sejarah menunjukkan bahwa Pilatus memerintah daerah Yudea (Palestina) pada tahun 26-36 Masehi !
Hal ini menunjukkan bahwa Mustafa adalah orang yg buta sejarah karena ia telah membuat kesalahan dalam hal biografi sejarah. Dalam Injil Palsu Barnabas pasal 20 dikisahkan tentang pelayanan Yesus dan murid-murid-Nya
Di sini diceritakan bahwa Yesus dan murid-murid-Nya bertolak ke Galilea dan berlabuh di Nazaret. Tapi peta a_palestine_map_jesus_timebumi Palestina menunjukkan bahwa Nazaret adalah sebuah kota yg terletak di dataran tinggi, berjarak sekitar 20 km dari laut Galilea sehingga mustahil disinggahi sebuah perahu seperti yg disebutkan dalam Injil Palsu Barnabas. ( Dataran Tinggi dikira Pelabuhan?? Buta huruf or buta sejarah)
Hal ini dengan secara jelas menunjukkan suatu bukti yg otentik bahwa Mustafa sama sekali tidak mengetahui situasi dan kondisi geografis daerah Palestina yg sebenarnya. Rupanya Mustafa sedang mimpi bin ngigo. Dalam Injil Palsu Barnabas pasal 152 diceritakan bahwa orang-orang kafir atau orang-orang di luar Yahudi termasuk pasukan tentara Romawi bebas memasuki tempat ibadah orang Yahudi. Dalam pasal ini dikatakan bahwa Yesus sedang berdialog dengan pasukan tentara Romawi di dalam rumah ibadah (tempat suci) orang Yahudi. Tampaknya Mustafa tidak tahu bahwa hal ini merupakan pelanggaran terhadap peraturan hukum kenajisan yg sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh seluruh bangsa Yahudi, yaitu bahwa orang-orang di luar Yahudi dilarang memasuki tempat ibadah orang Yahudi. Orang-orang Romawi sendiri sangat berhati-hati sekali dalam menyikapi masalah ini, sebab pelanggaran terhadap peraturan hukum kenajisan ini akan mengakibatkan timbulnya kekacauan dan prahara besar. Mustafa tampaknya tidak teliti dalam menyoroti masalah ini.

Dalam Injil Palsu Barnabas pasal 145 dilukiskan bahwa seolah-olah orang-orang Farisi tinggal dalam biara sehingga bisa dikatakan bahwa mereka adalah kaum biarawan. Tampaknya Mustafa tidak mengetahui bahwa yg dikatakan sebagai kaum biarawan pada waktu itu adalah orang-orang Esen (Yunani: Essenoi), yaitu orang-orang yg mengisolasi diri atau orang-orang yg menjauhkan diri dari keramaian duniawi, atau dengan kata lain, orang-orang yg hidupnya selalu mendekatkan diri kepada Sang Ilahi serta menjauhkan diri dari hal-hal yg bersifat duniawi. Tapi kaum Farisi selain menekuni ibadah, mereka juga masih bebas bergaul dengan masyarakat luas. Ternyata Mustafa kesalahpahaman dalam hal ini karena ia telah menyamakan dan mencampuradukkan golongan Farisi dengan golongan Esen.

liahonlp.nfo-o-fadDalam hal ini Mustafa adalah orang sok tahu yg sok memberitahu sehingga terjadi kekeliruan yg berakhir pada kelucuan. Dalam Injil Palsu Barnabas pasal 98 diceritakan bahwa Filipus berkata kepada Yesus tentang tidak cukupnya 200 keping emas untuk dibelikan sejumlah roti yg banyak (bandingkan hal ini dengan jawaban Filipus kepada Yesus yg tercatat dalam Yohanes 6: 7). Mustafa tampaknya tidak tahu bahwa satuan mata uang di Palestina pada waktu itu adalah dinar dengan logam perak, bukan emas. Satu dinar pada waktu itu adalah standar (ukuran) biaya untuk upah buruh yg bekerja selama sehari (Mat. 20: 2,13). Jadi 200 keping emas seharusnya dapat dibelikan roti yg luar biasa banyaknya untuk diberikan kepada lebih dari 5.000 orang karena emas jelas jauh lebih berharga dan lebih bernilai dari perak.
Di sini terlihat jelas bahwa Mustafa sangat umum dalam perhitungan dan penilaian mata uang.
Dalam Injil Palsu Barnabas pasal 82 tertulis bahwa tahun Yobel diperingati setiap 100 tahun sekali. Mustafa tampaknya lupa bahwa tahun Yobel diperingati oleh bangsa Yahudi setiap 50 tahun sekali sesuai dengan yg tertulis dalam Imamat 25: 8-13. Tahun Yobel pertama kali diperingati setiap 100 tahun sekali setelah dikeluarkannya dekrit (keputusan) atas hal ini oleh Paus Yonisius VII pada tahun 1300.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Injil Palsu Barnabas sebenarnya ditulis setelah abad ke-13. Di sinilah terbukanya kedok kepalsuan Mustafa. Jika benar injil aneh ini ditulis oleh Barnabas seorang Lewi dari Siprus (Kis. 4:36) yg adalah rekan kerja para rasul, maka injil ini seharusnya ditulis pada abad pertama dengan menggunakan bahasa Yunani, Ibrani atau Aram, bukan dengan menggunakan bahasa Italia yg justru akan menyebabkan kesulitan untuk mengerti bagi para pembacanya pada abad pertama
Barnabas sendiri (yang asli) tidak pernah mendengarkan bahasa Italia apalagi mempelajarinya, kecuali Barnabas imitasi yg membuat cerita dan dongeng 1001 mimpi yg membajak nama Barnabas untuk digunakan sebagai nama injil palsu buatannya. Kita lihat dalam uraian di atas bahwa Mustafa berulangkali membuat kesalahan fatal dalam penulisan injil palsunya. Hal ini disebabkan karena Mustafa buta ilmu bumi, buta sejarah, buta adat istiadat dan buta akan kehidupan sosial di Palestina pada zaman Yesus. Masih banyak lagi tipuan-tipuan dari Mustafa dalam injil palsunya, tetapi tampaknya sudah lebih dari cukup untuk menarik kesimpulan dari beberapa contoh di atas. Mustafa adalah orang yg jenius, cerdik seperti ular, hanya tidak tulus seperti merpati sehingga menjadi ular benar-benar, menjadi penipu yg ulung atau khoirul maakiriin sebagai warisan leluhurnya yg terkenal yg bernama Abunawas dan yg telah membuat palsu segalanya.

Namanya palsu, nama sebenarnya adalah Mustafa, tetapi ia menipu dengan mengaku bernama Marino. Nama injilnya juga palsu karena Barnabas yg asli tidak pernah menulis Injil, nama Barnabas telah dicatut oleh Mustafa untuk nama injil palsunya. Isinya apa lagi, semuanya khayalan dan palsu, penipuan besar-besaran yg tak kepalang tanggung. Pemalsuannya ini akhirnya ditelanjangi sebagai sebuah karya penipuan yg memalukan.
Banyak cendekiawan muslim yg sudah mengetahui kepalsuan Injil Palsu Barnabas ini dan menjadi malu untuk menggunakannya serta malu pula untuk menyebut-nyebutnya. Hanya muslim dungu yg masih menyanjung-nyanjung Injil Palsu Barnabas sebagai Injil yg asli. Dengan demikian kita mengetahui kisah Mustafa a.k.a Marino si Barnabas palsu yg mencoba membuktikan kebenaran Qur’an melalui cara yg tidak pantas dengan tujuan untuk menyesatkan Injil Otentik dan pemikiran kaum Kristiani.

Originally posted by Mr. David Benjamin
May GOD Bless You Always ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s